
Infopostlampung.com, Bandarlampung
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bandar Lampung, Dedi Yuginta, S.E., M.Si., menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Jalan Nakip, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung, Rabu (28/10/2026) siang.
Kegiatan yang diikuti masyarakat dari daerah pemilihan (Dapil) 2 Kota Bandar Lampung tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Noviansyah dan Rahmat Navindra, S.Ip. Diskusi dipandu moderator Zulkarnain serta dihadiri Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Bandar Lampung, Irwansyah Agung, S.H.
Dalam sambutannya, Dedi Yuginta mengajak masyarakat menyimak materi yang disampaikan para narasumber serta memahami pentingnya ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dedi mengatakan, peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah perjuangan bangsa sekaligus memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat.
“Dahulu kita mengenal Pendidikan Moral Pancasila (PMP), ketika nilai-nilai Pancasila diajarkan dan sila-silanya harus dihafalkan. Sekarang kita perlu kembali memperkuat pemahaman dan pengamalan Pancasila serta menjaga budaya bangsa,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai persoalan yang berpotensi memecah belah persatuan. Menurutnya, perbedaan pendapat harus disikapi dengan bijak dan mengedepankan kepentingan bersama.
Dedi juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kondisi global yang diwarnai konflik di sejumlah negara hingga dampak perubahan cuaca dan persoalan lingkungan.
Ia mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah terjadinya banjir saat musim hujan. Sebagai salah satu upaya, ia menyampaikan rencana pembinaan bank sampah di lingkungan masyarakat.
“Jangan mudah terprovokasi dan ikut-ikutan dalam tindakan yang dapat memecah belah persatuan. Mari kita jaga kerukunan, persatuan, dan kesatuan di wilayah kita masing-masing,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber Noviansyah menjelaskan bahwa Pancasila memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai dasar negara, sumber dari segala sumber hukum, serta pandangan hidup bangsa.
Ia menguraikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila harus diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sekadar dihafalkan atau dipahami secara teori.
Menurutnya, pengamalan Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga toleransi, mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, berlaku adil, serta membantu sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Dengan penerapan nilai-nilai tersebut, masyarakat diharapkan mampu menjaga keharmonisan dan memperkuat kehidupan sosial yang berlandaskan Pancasila.
Narasumber lainnya, Rahmat Navindra, S.Ip., memaparkan tugas dan fungsi DPRD serta pentingnya wawasan kebangsaan sebagai cara pandang bangsa Indonesia dalam kehidupan bernegara.
Ia menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan berlandaskan empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi bangsa, UUD 1945 menjadi konstitusi negara, Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang mencerminkan persatuan dalam keberagaman, sedangkan NKRI merupakan bentuk negara yang telah ditegaskan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Rahmat juga menyinggung kondisi global yang diwarnai konflik di sejumlah negara. Menurutnya, situasi tersebut dapat berdampak terhadap perekonomian dunia, termasuk kenaikan harga minyak yang berpotensi memengaruhi harga bahan pokok.
Meski demikian, ia mengajak masyarakat tetap optimistis dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Selain itu, Rahmat mengingatkan pentingnya membentengi generasi muda dari pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Ia menekankan bahwa semangat gotong royong harus terus ditumbuhkan sebagai bagian dari identitas masyarakat Indonesia sekaligus bentuk nyata pengamalan Pancasila. (Husni)